Pengaruh Lingkungan Fisik Teknis Terhadap Produksi Perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan Tengah
1.1 Latar Belakang
Lingkungan fisik teknis termasuk salah satu
lingkungan eksternal dalam lingkungan agribisnis. Lingkungan fisik teknis
merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan dalam upaya pangembangan
komoditi agribisnis di suatu wilayah karena faktor-faktor tersebut ikut
menentukan kaberhasilan sistem agribisnis. Di dalam lingkungan fisik teknis
sendiri meliputi letak geografis, keadaan iklim, keadaan sumber air, keadaan
tanah dan topografi, dan keadaan vegetasi. Kondisi letak geografis adalah posisi
keberadaan sebuah wilayah berdasarkan letak dan bentuknya di muka bumi.
Biasanya letak geografis dibatasi dengan fitur geografi yang ada di bumi dan
nama daerah yang secara langsung bersebelahan atau berbatasan dengan daerah
tersebut. Sementara keadaan iklim adalah kondisi rata-rata cuaca yang terjadi
di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama baik itu curah hujan, kelembapan
lingkungan, lama penyinaran, kacepatan angin, dan temperatur di wilayah
tersebut. Sedangkan keadaan sumber air merupakan seberapa banyak kemelimpahan
air yang ada di daerah tersebut, baik air tanah, air permukaan, air sungai, danau
atau waduk, maupun laut. Keadaan tanah dan topografi adalah tentang bagaimana
persebaran jenis tanah di daerah tersebut dan untuk topografi adalah bagaimana
bentukan di daerah tersebut sehingga dapat diukur kemiringannya. Dan vegetasi
merupakan kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama pada
suatu tempat yang membentuk suatu kesatuan dimana individu-individunya
melakukan interaksi.
Pembangunan perkebunan kelapa sawit di
Indonesia sangatlah besar. Di Indonesia sendiri mempunyai provinsi-provinsi
yang cocok untuk perkebunan kelapa sawit. Provinsi tersebut antara lain
Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan
Tengah, dan Kalimantan Timur. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun
2021, provinsi dengan penghasil kelapa sawit terbesar di Indonesia berada di
Riau dengan hasil produksi sebanyak 8.629.100 ton. Di Riau pula merupakan
perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia dengan total luas lahan mencapai
2.860.800 ha (BPS, 2021). Tetapi jika dihitung dari total lahan dibagi dengan
hasil produksi dalam satu tahun maka diperoleh Kalimantan Tengah sebagai
produksi kelapa sawit paling optimal di Indonesia. Yaitu dengan total luasan
lahan 1.815.600 ha, dapat menghasilkan sekitar 8.600.900 ton kelapa sawit (BPS,
2021).
1. Kondisi Geografis Perkebunan Kelapa Sawit di
Kalimantan Tengah
Indonesia merupakan negara topis yang memiliki
dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Penyebab Indonesia memiliki
dua musim merupakan akibat dari letak astronomis Indonesia yaitu pada 6˚LU –
11˚LS dan 95˚BT – 141˚BT. Indonesia juga merupakan salah satu negara yang
dilewati oleh garis khatulistiwa. Garis khatulistiwa itu sendiri merupakan
garis khayal yang yang membagi bumi menjadi dua bagian yaitu bagian utara dan
selatan. Sehingga ada berbagai daerah/provinsi di Indonesia yang dilewati
langsung oleh garis khatulistiwa, dengan contoh daerah yaitu Kalimantan Tengah.
Dilihat dari letak astronomisnya, Kalimantan Tengah terletak pada 0˚45′LU – 3˚30′LS
dan 110˚45′ – 15˚51′BT (Bintariningtyas
& Juwita, 2021). Terletak diantara tiga provinsi yaitu
Provinsi Kalimantan Barat, Provinsi Kalimantan Selatan, dan Provinsi Kalimantan
Timur. Luas total wilayah Kalimantan Tengah sebesar 153.564 km2.
Sehingga jika dilihat dari letak astronomis dan letak geografis dari Provinsi
Kalimantan Tengah merupakan daerah yang sangat optimal untuk pembangunan
perkebunan kelapa sawit.
2. Keadaan Iklim di Perkebunan Kelapa Sawit di Kalimantan
Tengah
Secara umum, tanaman kelapa sawit dapat hidup
dengan baik pada daerah yang memiliki curah hujan 2000-2500 mm/tahun dengan
temperatur terendah 18˚C dan temperatur tertinggi 32˚C dengan temperatur
optimal 24˚C-28˚C, kelembapan lingkungan sebesar 80%-85%, ketinggian tempat
yang optimal berada di 0-400 mdpl, lama penyinaran 5-7 jam perhari, dan
kecepatan angin yang rendah berkisar antara 5-6 km/jam (Iswadi, 2016). Sementara
iklim yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah dengan data curah hujan sebesar
2.363,4 mm/tahun (BPS, 2019), dengan temperatur berkisar antara 21˚C-34˚C, kelembapan
rata-rata sebesar 83,44%, ketinggian wilayah rata-rata yaitu diantara 25-100
mdpl dengan presentase 41,66% dari total luas wilayah Kalimantan Tengah,
presentase rata-rata penyinaran sebesar 59,52%, dan kecepatan angin rata-rata
sebesar 3,18 km/jam (DisHut KalTeng, 2019). Sehingga dari data iklim pada 2019
di Kalimantan Tengah menunjukkan iklim yang optimal untuk pembangunan
perkebunan kelapa sawit.
3. Keadaan Sumber Air Perkebunan Kelapa Sawit di
Kalimantan Tengah
Karena sebagian besar wilayah Kalimantan
Tengah didominasi oleh tanah podsolik merah kuning yang memiliki ciri yaitu
daya serap air baik ditambah dengan curah hujan yang mendukung yaitu 2.363
mm/tahun, maka pemenuhan kebutuhan air pada perkebunan kelapa sawit dapat
terpenuhi. Terlebih lagi di setiap perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah
jarak antara sungai dengan perkebunan cukup dekat, jadi apabila di perkebunan
terjadi kekeringan, dari pihak petani kelapa sawit akan membuka saluran irigasi
yang berasal dari sungai terdekat (Ardiyanto et
al., 2021).
4. Keadaaan Tanah dan Topografi Perkebunan
Kelapa Sawit di Kalimantan Tengah
Dalam budidaya di perkebunan kelapa sawit
pastinya memerlukan media untuk tumbuh dari tanaman tersebut. Kelapa sawit dapat
tumbuh dengan baik pada hampir semua jenis tanah baik jenis tanah podsolik,
latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan aluvial (Hasriyanti et
al., 2016). Sementara menurut Siswadi (2016), pasyarat
tanah yang baik untuh tumbuh kembang tanaman kelapa sawit yaitu:
-
Memiliki tekstur ringan, dengan perbandingan
kandungan pasir 20-60%, debu 10-40%, dan liat 20-50%.
-
Kedalaman solum minimal 80 cm dengan tanpa
padas.
-
Ph tanah optimal cenderung asam yaitu
dikisaran 5-6.
-
Kemiringan lahan maksimal 25%.
Sementara keadaan tanah dan topografi di
Provinsi Kalimantan Tengah (DisHut KalTeng, 2019) yaitu:
-
Jenis tanah yang paling mendominasi di
Kalimantan Tengah adalah jenis tanah podsolik merah kuning yang memiliki pH
5,44 dengan persentase luas yaitu 39,6% dari total luas Kalimantan Tengah.
-
Kemiringan/topografi wilayah Kalimantan
Selatan didominasi dengan kemiringan datar yaitu <8% dengan persentase luas
mencapai 46,12% dari keseluruhan wilayah Kalimantan Tengah.
5. Keadaan Vegetasi Perkebunan Kelapa Sawit
di Kalimantan Tengah
Vegetasi yang ada perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah, sebagian besar didominasi oleh gulma. Hasil penelitian Susanto (2018) menemukan bahwa sebagian besar gulma yang ada di perkebunan kelapa sawit termasuk golongan gulma berdaun lebar, rerumputan, tekian, dan beberapa jenis paku. Daur hidup gulma tersebut ada yang tahunan dan ada juga yang semusim. Untuk pengendalian gulma pada perkebunan kelapa sawit dapat menggunakan herbisida. Untuk gulma semusim dapat dengan menyemprotkan cairan gramason, sementara untuk gulma tahunan dapat dengan menyemprotkan cairan roundup (Susanto et al., 2018).

Nice
BalasHapusThankss
Hapus